Dibaca 716 Pengguna

Fakta Bayi Prematur

Di tulis oleh
dr. Buahati Sehat, Sp.A
|
05 September 2021
fakta-bayi-prematur

Istilah bayi prematur tidak sama dengan bayi berat lahir rendah (BBLR). Bayi prematur adalah bayi yang lahir lebih awal dari yang diperkirakan, yakni sebelum usia kehamilan 37 minggu, sedangkan bayi yang lahir dengan berat badan kurang dari 2.500 gram disebut Bayi Berat Lahir Rendah (BBLR). BBLR dibagi menjadi beberapa kategori, bayi dengan berat kurang dari 1.500 gram disebut Bayi Berat Lahir Sangat Rendah (BBLSR), dan kurang dari 1.000 gram disebut Bayi Berat Lahir Amat Sangat Rendah (BBLASR). Berdasarkan definisi tersebut, dapat diketahui bahwa tidak semua bayi berat lahir rendah termasuk bayi prematur.

Terdapat sebanyak 675.700 bayi lahir prematur di Indonesia dari sekitar 4,5 juta kelahiran bayi per tahunnya. Bahkan dari 10 negara, Indonesia menduduki posisi kelima dengan kasus kelahiran prematur tertinggi. Sementara tingkat kelangsungan hidup bayi prematur yang lahir pada usia kehamilan 24 minggu memiliki peluang bertahan 60%. Ibu yang punya riwayat melahirkan prematur memiliki risiko berulang terjadinya persalinan prematur sebesar 30-40%.

Sesuai dengan namanya, prematur, maka fungsi tubuh bayi prematur masih belum sempurna, sehingga perlu penanganan khusus oleh dokter di rumah sakit. Bayi prematur akan ditempatkan di ruang perawatan khusus bayi sakit (special care nurse) ataupun ruang intensif neonatus (Neonatal Intensive Care Unit / NICU) untuk jangka waktu tertentu. Usia kehamilan bayi prematur menentukan waktu tinggal di rumah sakit dengan kisaran usia 23 minggu selama 163 hari, hingga usia 33 minggu selama 11 hari. Semakin muda usia kelahiran, rendah berat lahir, dan kompleksnya masalah bayi prematur, akan semakin lama waktu rawatnya di rumah sakit.

Terdapat beberapa fakta penting mengenai bayi prematur yang harus diketahui oleh orang tua, yakni diantaranya:

1. Secara fisik, bayi prematur terlihat berbeda dengan bayi yang lahir normal. Bayi prematur memiliki ukuran tubuh dan kepala yang tidak proporsional dimana tubuh yang lebih kecil dengan ukuran kepala yang agak besar.

2. Menginjak usia kehamilan 20 hingga 24 minggu, risiko lahir prematur pada bayi laki-laki meningkat 27%, dan tentunya semakin muda usia kelahiran akan meningkatkan komplikasi dan risiko kematian.

3. Proses tumbuh kembang bayi prematur juga lebih lambat, bahkan sesama bayi yang lahir prematur juga akan berbeda-beda perkembangannya. Kita harus memahami dan menggunakan konsep usia koreksi untuk pemantauan perkembangan bayi-bayi prematur.

4. Otak bayi prematur memiliki beberapa bagian yang rapuh dan pengaturan aliran darahnya belum sempurna sehingga mudah mengalami cedera berupa perdarahan.

5. Ada kalanya otot jantung bayi prematur belum sempurna. Selain itu ada juga struktur pembuluh darahnya yang belum berkembang sempurna. .

6. Paru-paru bayi prematur masih sulit untuk mengembang, sehingga menyebabkan bayi prematur bernapas secara cepat sehingga mayoritas dari bayi prematur mendapatkan bantuan napas diawal-awal kehidupannya.

7. Bayi prematur lebih rentan terjangkit penyakit kuning dan anemia.

8. Oleh karena prematur dan kurangnya mendapatkan antibodi yang cukup dari ibu selama masa kehamilan, maka bayi prematur juga rentan mengalami infeksi berulang.

9. Pengaturan suhu tubuh bayi prematur masih belum sempurna sehingga mudah terjadi hipotermia (suhu tubuh yang rendah).

10. Bayi prematur memiliki refleks untuk mengisap dan menelan yang belum baik, sehingga menyulitkan mereka untuk minum melalui mulut.

Demikian beberapa hal fakta terkait bayi prematur. Cobalah berkonsultasi dan berdiskusi dengan dokter anak mengenai keadaan bayi prematur anda. Penyakit yang sedang atau telah dialami, pertumbuhan dan perkembangannya, serta rencana ke depan untuk bayi prematur anda.


Referensi:
1. American Academy of Pediatrics. Caring for Your Baby and Young Child: Birth to Age 5, 6th Edition. 2015.

Bagikan Artikel

Artikel Lainnya


bebas-asap-rokok-di-rumah
Dibaca 411 Pengguna
Bebas Asap Rokok di Rumah
Sering terpapar asap rokok dan menjadi perokok pasif lebih berbahaya daripada menjadi perokok aktif. Anak-anak dan bayi masih sangat rentan jika terpapar asap rokok. Jutaan anak hidup di lingkungan perokok aktif, bahkan di lingkungan rumah mereka. Di Amerika, sebanyak 4 dari 10 bayi dan anak (40,6%) merupakan perokok pasif yang sering terpapar asap rokok langsung. Kita juga sering mendengar mengenai Third-hand smoke? Apa itu third-hand smoke? Third-hand smoke merupakan residu dari asap rokok lingkungan yang menempel di setiap permukaan yang terpapar asap rokok dari lingkungan sekitarnya. Third-hand smoke biasanya terkena permukaan baju, lantai, perabot rumah tangga, mainan, kendaraan, dan dinding. Kontak dengan permukaan yang terpapar asap rokok, juga berbahaya bagi tubuh terutama anak-anak. Anak-anak yang sering terpapar rokok baik secara langsung setelah lahir atau lahir dari ibu yang merupakan perokok aktif berisiko tinggi untuk meninggal akibat terkena Sudden Infant Death Syndrome (SIDS) atau sindrom kematian mendadak pada bayi. Selain SIDS, bayi yang sering terpapar asap rokok sejak usia dini akan tumbuh menjadi anak yang sering sakit, dan sering mengalami gangguan sistem pernapasannya. Asma, radang paru-paru, bronkitis, pneumonia, dan penurunan fungsi paru adalah beberapa gangguan yang bisa dialami anak jika terpapar asap rokok dalam jangka Panjang. Pada ibu hamil yang merupakan perokok pasif akan berisiko tinggi untuk melahirkan bayi dengan berat lahir rendah (BBLR), dimana hal ini membuat bayi menjadi lebih lemah dan mudah terserang penyakit. Tentu anda tidak ingin hal ini terjadi pada bayi anda bukan? Oleh karena itu, penting bagi anda untuk menerapkan lingkungan rumah bebas asap rokok. Ciptakanlah lingkungan yang aman dan nyaman untuk bayi anda. Jika ada penghuni rumah yang merokok, segeralah berhenti. Namun, jika memang rumah terpapar dengan asap rokok, berikut beberapa cara yang dapat dilakukan untuk mencegah paparan melalui third-hand smoke, anda dapat mencuci dan membersihkan seluruh permukaan yang terpapar asap, membersihkan mainan dan benda-benda yang akan digunakan untuk bayi anda, cuci seluruh benda berbahan kain dirumah anda (termasuk karpet, sprei dan lain-lain), serta pastikan para perokok ataupun orang-orang yang baru terpapar asap rokok lingkungan untuk langsung mengganti baju dan mencuci tangan sesering mungkin terutama jika ingin menyentuh bayi anda serta barang-barang keperluan bayi anda.Referensi :1. Mayo Clinic. What is thirdhand smoke, why is it a concern? 2020. Diunduh dari: https://www.mayoclinic.org/healthy-lifestyle/adult-health/expert-answers/third-hand-smoke/faq-200577912. Healthychildren.org. Tips to keep a smoke-free home & car. 2017. Diunduh dari: https://www.healthychildren.org/English/health-issues/conditions/tobacco/Pages/Importance-of-Smoke-Free-Homes-and-Cars.aspx3. Pogodina C, Huber L R B, Racine E F, Platonova E. Smoke-free homes for smoke-free babies: the role of residential environmental tobacco smoke on low birth weight. J Community Health. 2009; Vol 34(5); 376-382.4. AAP. Smokefree homes and child health. 2020. Diunduh dari: https://downloads.aap.org/RCE/SmokefreeHomesFactsheet.pdf
dr. Buahati Sehat, Sp.A
06 September 2021
peran-saudara-kandung-di-rumah-dalam-perawatan-bayi-prematur
Dibaca 526 Pengguna
Peran Saudara Kandung di Rumah Dalam Perawatan Bayi Prematur
Pulang dengan adik baru tentunya akan terjadi banyak perubahan di rumah. Kakak juga pasti sudah menantikan lahirnya sang adik baru selama berbulan-bulan dan akan banyak macam reaksi dari mereka akan perubahan ini. Mereka mungkin akan menanyakan bagaimana kondisi adiknya, apa saja yang akan dibutuhkan adiknya, bahkan banyak perubahan dalam perilaku mereka, seperti bertingkah agak frustasi akan perubahan ini, beberapa akan menunjukkan rasa cemburu terhadap adiknya, dan mereka akan sedikit mencari perhatian anda dengan selalu meminta tolong akan hal-hal yang sebenarnya sudah mereka kuasai sebelumnya. Respon terhadap stres anak akan hal ini berbeda-beda pada tiap anak dan tergantung pada banyak hal. Hal-hal umum yang dapat menyebabkan stres bagi si kakak baru dan beberapa reaksi yang biasanya akan muncul: Stresor: Takut berpisah dari orang tua Perasaan tidak diinginkan di rumah Reaksi umum Menguji otoritas orang tua Mengalami beberapa kemunduran keterampilan Ada banyak faktor yang dapat memengaruhi bagaimana sang kakak akan berperilaku ketika berada disekitar adiknya yang baru lahir: Usia mereka saat adik baru lahir Jenis kelamin mereka dan adik bayi Seberapa lama sang adik tinggal di rumah sakit sebelumnya Respon mereka terhadap proses kelahiran Mengunjungi NICU Bagaimana proses mereka bertemu adik bayi untuk pertama kali Perubahan rutinitas rumah Sebagai orang tua tentu sudah tugas anda untuk mengatasi respon mereka, bagaimanapun itu. Berikut beberapa tips yang dapat anda lakukan agar si kakak merasa bahwa ia juga ‘spesial’ Libatkan mereka dalam proses persiapan untuk membawa adik bayi pulang, ke rumah pertama kali, jika memungkinkan. Miliki rutinitas harian setelah adik bayi pulang Tetapkan tugas khusus bagi mereka untuk ikut merawat adik bayi, jika memungkinkan. Biarkan mereka turut memilih mainan, buku dan pakaian untuk bayi. Anjurkan mereka untuk sering menghabiskan waktu bersama adik bayi Luangkan waktu untuk melakukan aktivitas hanya berdua dengan mereka Berhati-hatilah saat membuat janji kepada kakak, jangan membuat janji jika anda tidak yakin bisa menepatinya. Karena tidak dapat dipungkiri terkadang kebutuhan medis adik bayi merupakan prioritas saat ini. Referensi :1. Tommy’s. Managing relationships after premature birth. 2020. Diunduh dari: https://www.tommys.org/pregnancy-information/premature-birth/coping-with-premature-birth/managing-relationships-after-premature-birth2. Beavis A G. What about brothers and sisters? helping siblings cope with a new baby brother or sister in the NICU. Infant. 2007. Volume 3, Issue 6; page 239-242.3. Hand to Hold. Navigating the NICU as a family: connecting siblings with NICU babies. 2017. Diunduh dari: https://handtohold.org/nicu-sibling-support/
dr. Buahati Sehat, Sp.A
06 September 2021
biaya-yang-dibutuhkan-untuk-perawatan-intensif-di-nicu
Dibaca 1448 Pengguna
Biaya yang Dibutuhkan untuk Perawatan Intensif di NICU
NICU (Neonatal Intensive Care Unit) merupakan tempat pertama yang akan dituju untuk perawatan para bayi dengan kebutuhan khusus seperti bayi prematur sejak dilahirkan. Tujuan utama seorang bayi dirawat di NICU adalah untuk menjaga kelangsungan hidup bayi yang lahir dalam kondisi lemah sampai tubuhnya mampu beradaptasi sendiri biasanya dari baru lahir hingga usia 30 hari. Bayi yang dirawat dalam ruang NICU memerlukan perawatan khusus di bawah pemantauan tim medis. Dokter dan perawat yang bertugas juga telah terlatih dalam mengurus bayi lahir prematur atau dengan kebutuhan khusus. Tujuannya adalah agar bayi bisa tetap sehat dan dapat pulang kembali ke rumah mereka. Banyak hal yang dapat menentukan berapa lama bayi akan dirawat di ruang NICU. Beberapa pertimbangan ketika bayi sudah diperbolehkan untuk pulang ke rumah, yaitu: Mampu makan tanpa bantuan selang, Bisa bernapas dengan baik tanpa adanya perubahan di organ dalamnya, Mampu mengatur suhu tubuhnya di luar inkubator NICU. Bayi yang harus dirawat ke dalam ruang NICU, tentu membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Bahkan ada biaya yang mencapai Rp10-15 juta/hari karena kebutuhan dan kondisi khusus bayi itu sendiri. Biaya rata-rata perawatan NICU di Indonesia sekitar Rp 500 ribu hingga 2 juta per hari, tergantung jenis kamar, kelengkapan alat-alat, dan jenis perawatan yang dibutuhkan. Dengan jumlah tersebut, masyarakat ekonomi lemah tentu tidak mampu menjangkaunya. Apabila bayi Anda harus mendapatkan perawatan di ruang NICU, pastikan Anda telah mendapatkan informasi yang lengkap mengenai fasilitas, biaya, serta aturan yang diterapkan rumah sakit. Berbagai informasi tersebut dapat Anda dapatkan dari dokter maupun dari petugas di rumah sakit.Sumber :1. Cheah I G S. Economic assessment of neonatal intensive care. Transl Pediatr. 2019. Volume 8(3); page 246-256.2. Narang A, Kiran P S S, Kumar P. Cost of neonatal intensive care in a tertiary care center. Indian Pediatr. 2005. Vol 42(10); 989-997.3. Shanmugasundaram R, Pdamapriya E, Shyamala J. Cost of neonatal intensive care. Indian J Peditr. 1998. Issue 65; 249-255.
dr. Buahati Sehat, Sp.A
06 September 2021
Konsultasi Bersama Buahati