Dibaca 243 Pengguna

Pola Tidur Bayi Baru Lahir

Di tulis oleh
dr. Buahati Sehat, Sp.A
|
05 September 2021
pola-tidur-bayi-baru-lahir

Bayi yang baru lahir, biasanya memiliki pola tidur yang berbeda dengan pola tidur bayi dengan usia yang lebih besar. Bayi baru lahir biasanya akan menghabiskan waktu tidur lebih banyak untuk perkembangan otaknya sehingga mendukung tumbuh-kembangnya. Hal ini juga berlaku dengan bayi prematur, dengan usianya lahir lebih muda, bayi prematur memiliki pola tidur yang berbeda dengan bayi cukup bulan.

Umumnya bayi prematur tidak tidur yang cukup lama sepanjang malam pada awal kehidupannya, bahkan sepanjang 1 tahun pertama.. Tidak seperti bayi cukup bulan, yang mungkin tidur 6 hingga 8 jam penuh di malam hari pada usia 4 bulan, bayi prematur mungkin masih belum bisa tertidur dalam waktu panjang hingga usia 6-8 bulan atau lebih.

Bayi baru lahir belum sepenuhnya mengenal perbedaan antara pagi dan malam hari. Oleh karena itu, tidak heran kalau mereka lebih banyak tidur pada siang hari dan energinya memuncak di malam hari. Selama periode transisi ini, sangat dianjurkan untuk bermain dan stimulasi bayi selama ia terjaga di siang hari. Jika ingin menyusui bayi anda pada tengah malam, usahakan dilakukan dalam keadaan yang sangat tenang, dengan pencahayaan yang minimal. Hal ini akan membantu bayi mempelajari perbedaan antara waktu siang dan malam hari serta dapat membantu orang tua mendapatkan waktu untuk tidur malam yang cukup. Akan tetapi proses adaptasi ini mungkin memerlukan beberapa minggu sebelum bayi akan terbiasa membedakan antara siang dan malam.

Buat pola rutinitas harian

Bayi memiliki perbedaan dalam kemudahan mereka terlelap saat ingin memulai tidur. Gunakan langkah yang sama setiap kali kita menidurkan bayi untuk membantunya mempelajari rutinitas tidur pribadinya. Pada awalnya, kita mungkin akan langsung siaga menghampiri bayi saat terdengar suara tangisan pertama ketika ia tidur. Namun lambat laun, saat sudah saling mengenal satu sama lain dan saat kita sudah memperhatikan kemampuan bayi dalam menghibur dan menenangkan diri saat menangis, sesekali kita perlu membiarkan bayi menghibur dirinya sendiri dan kembali tidur sendiri. Menghibur diri sendiri adalah keterampilan penting bagi seorang bayi. Akan saat memudahkan bagi kita untuk segera mengajarkan bayi untuk bisa tidur sendiri sehingga pada tahap perkembangan selanjutnya (usia 6-9 bulan) sudah tidak masalah ketika masalah tidur mungkin muncul lagi.

Buat keadaan tidur senyaman mungkin

Untuk membantu bayi beristirahat, kita bisa mencoba memutarkan lagu yang berirama lembut atau letakkan jam yang berdetak di kamar tidurnya selama beberapa minggu pertama di rumah. Selain itu, sebaiknya kita menggunakan lampu tidur dengan cahaya yang lebih lembut (warm light) juga agar bayi lebih merasa tenang. Biarkan bayi menggunakan empeng atau menghisap jempolnya jika ini dapat menenangkannya hingga jatuh ke dalam tidurnya.

Selain kenyamanan, keamanan pada saat tidur juga perlu dijaga. Berikut adalah tips untuk tidur yang aman bagi bayi:

1. Sebaiknya bayi tetap tidur sendirian, di dalam box bayinya, bukan di tempat tidur orang dewasa atau bahkan di sofa atau karpet.

2. Selalu letakkan bayi dalam posisi telentang, jangan posisikan dalam keadaan tengkurap, khususnya saat awal-awal pasca-pulang dari perawatan di rumah sakit.

3. Lapisi tempat tidurnya dengan sprei yang bersih, dalam satu kamar dengan orangtua. Pastikan tidak ada bantal, mainan, selimut tambahan atau benda lain disekitar bayi anda saat ia sedang tidur. Jangan letakkan bayi di dalam car seat, ayunan atau stroller saat ia sedang tidur.

Referensi:

1. Chaput, J. P., Dutil, C., & Kayinga, H. S. (2018). Sleeping Hours: What Is the Ideal Number and How Does Age Impact This? Nature and Science of Sleep, 10, pp. 421-430.


2. Caton, G. Baby Centre UK (2019). My Baby Is Up All Night and Sleeps All Day.

Bagikan Artikel

Artikel Lainnya


bebas-asap-rokok-di-rumah
Dibaca 412 Pengguna
Bebas Asap Rokok di Rumah
Sering terpapar asap rokok dan menjadi perokok pasif lebih berbahaya daripada menjadi perokok aktif. Anak-anak dan bayi masih sangat rentan jika terpapar asap rokok. Jutaan anak hidup di lingkungan perokok aktif, bahkan di lingkungan rumah mereka. Di Amerika, sebanyak 4 dari 10 bayi dan anak (40,6%) merupakan perokok pasif yang sering terpapar asap rokok langsung. Kita juga sering mendengar mengenai Third-hand smoke? Apa itu third-hand smoke? Third-hand smoke merupakan residu dari asap rokok lingkungan yang menempel di setiap permukaan yang terpapar asap rokok dari lingkungan sekitarnya. Third-hand smoke biasanya terkena permukaan baju, lantai, perabot rumah tangga, mainan, kendaraan, dan dinding. Kontak dengan permukaan yang terpapar asap rokok, juga berbahaya bagi tubuh terutama anak-anak. Anak-anak yang sering terpapar rokok baik secara langsung setelah lahir atau lahir dari ibu yang merupakan perokok aktif berisiko tinggi untuk meninggal akibat terkena Sudden Infant Death Syndrome (SIDS) atau sindrom kematian mendadak pada bayi. Selain SIDS, bayi yang sering terpapar asap rokok sejak usia dini akan tumbuh menjadi anak yang sering sakit, dan sering mengalami gangguan sistem pernapasannya. Asma, radang paru-paru, bronkitis, pneumonia, dan penurunan fungsi paru adalah beberapa gangguan yang bisa dialami anak jika terpapar asap rokok dalam jangka Panjang. Pada ibu hamil yang merupakan perokok pasif akan berisiko tinggi untuk melahirkan bayi dengan berat lahir rendah (BBLR), dimana hal ini membuat bayi menjadi lebih lemah dan mudah terserang penyakit. Tentu anda tidak ingin hal ini terjadi pada bayi anda bukan? Oleh karena itu, penting bagi anda untuk menerapkan lingkungan rumah bebas asap rokok. Ciptakanlah lingkungan yang aman dan nyaman untuk bayi anda. Jika ada penghuni rumah yang merokok, segeralah berhenti. Namun, jika memang rumah terpapar dengan asap rokok, berikut beberapa cara yang dapat dilakukan untuk mencegah paparan melalui third-hand smoke, anda dapat mencuci dan membersihkan seluruh permukaan yang terpapar asap, membersihkan mainan dan benda-benda yang akan digunakan untuk bayi anda, cuci seluruh benda berbahan kain dirumah anda (termasuk karpet, sprei dan lain-lain), serta pastikan para perokok ataupun orang-orang yang baru terpapar asap rokok lingkungan untuk langsung mengganti baju dan mencuci tangan sesering mungkin terutama jika ingin menyentuh bayi anda serta barang-barang keperluan bayi anda.Referensi :1. Mayo Clinic. What is thirdhand smoke, why is it a concern? 2020. Diunduh dari: https://www.mayoclinic.org/healthy-lifestyle/adult-health/expert-answers/third-hand-smoke/faq-200577912. Healthychildren.org. Tips to keep a smoke-free home & car. 2017. Diunduh dari: https://www.healthychildren.org/English/health-issues/conditions/tobacco/Pages/Importance-of-Smoke-Free-Homes-and-Cars.aspx3. Pogodina C, Huber L R B, Racine E F, Platonova E. Smoke-free homes for smoke-free babies: the role of residential environmental tobacco smoke on low birth weight. J Community Health. 2009; Vol 34(5); 376-382.4. AAP. Smokefree homes and child health. 2020. Diunduh dari: https://downloads.aap.org/RCE/SmokefreeHomesFactsheet.pdf
dr. Buahati Sehat, Sp.A
06 September 2021
peran-saudara-kandung-di-rumah-dalam-perawatan-bayi-prematur
Dibaca 526 Pengguna
Peran Saudara Kandung di Rumah Dalam Perawatan Bayi Prematur
Pulang dengan adik baru tentunya akan terjadi banyak perubahan di rumah. Kakak juga pasti sudah menantikan lahirnya sang adik baru selama berbulan-bulan dan akan banyak macam reaksi dari mereka akan perubahan ini. Mereka mungkin akan menanyakan bagaimana kondisi adiknya, apa saja yang akan dibutuhkan adiknya, bahkan banyak perubahan dalam perilaku mereka, seperti bertingkah agak frustasi akan perubahan ini, beberapa akan menunjukkan rasa cemburu terhadap adiknya, dan mereka akan sedikit mencari perhatian anda dengan selalu meminta tolong akan hal-hal yang sebenarnya sudah mereka kuasai sebelumnya. Respon terhadap stres anak akan hal ini berbeda-beda pada tiap anak dan tergantung pada banyak hal. Hal-hal umum yang dapat menyebabkan stres bagi si kakak baru dan beberapa reaksi yang biasanya akan muncul: Stresor: Takut berpisah dari orang tua Perasaan tidak diinginkan di rumah Reaksi umum Menguji otoritas orang tua Mengalami beberapa kemunduran keterampilan Ada banyak faktor yang dapat memengaruhi bagaimana sang kakak akan berperilaku ketika berada disekitar adiknya yang baru lahir: Usia mereka saat adik baru lahir Jenis kelamin mereka dan adik bayi Seberapa lama sang adik tinggal di rumah sakit sebelumnya Respon mereka terhadap proses kelahiran Mengunjungi NICU Bagaimana proses mereka bertemu adik bayi untuk pertama kali Perubahan rutinitas rumah Sebagai orang tua tentu sudah tugas anda untuk mengatasi respon mereka, bagaimanapun itu. Berikut beberapa tips yang dapat anda lakukan agar si kakak merasa bahwa ia juga ‘spesial’ Libatkan mereka dalam proses persiapan untuk membawa adik bayi pulang, ke rumah pertama kali, jika memungkinkan. Miliki rutinitas harian setelah adik bayi pulang Tetapkan tugas khusus bagi mereka untuk ikut merawat adik bayi, jika memungkinkan. Biarkan mereka turut memilih mainan, buku dan pakaian untuk bayi. Anjurkan mereka untuk sering menghabiskan waktu bersama adik bayi Luangkan waktu untuk melakukan aktivitas hanya berdua dengan mereka Berhati-hatilah saat membuat janji kepada kakak, jangan membuat janji jika anda tidak yakin bisa menepatinya. Karena tidak dapat dipungkiri terkadang kebutuhan medis adik bayi merupakan prioritas saat ini. Referensi :1. Tommy’s. Managing relationships after premature birth. 2020. Diunduh dari: https://www.tommys.org/pregnancy-information/premature-birth/coping-with-premature-birth/managing-relationships-after-premature-birth2. Beavis A G. What about brothers and sisters? helping siblings cope with a new baby brother or sister in the NICU. Infant. 2007. Volume 3, Issue 6; page 239-242.3. Hand to Hold. Navigating the NICU as a family: connecting siblings with NICU babies. 2017. Diunduh dari: https://handtohold.org/nicu-sibling-support/
dr. Buahati Sehat, Sp.A
06 September 2021
biaya-yang-dibutuhkan-untuk-perawatan-intensif-di-nicu
Dibaca 1448 Pengguna
Biaya yang Dibutuhkan untuk Perawatan Intensif di NICU
NICU (Neonatal Intensive Care Unit) merupakan tempat pertama yang akan dituju untuk perawatan para bayi dengan kebutuhan khusus seperti bayi prematur sejak dilahirkan. Tujuan utama seorang bayi dirawat di NICU adalah untuk menjaga kelangsungan hidup bayi yang lahir dalam kondisi lemah sampai tubuhnya mampu beradaptasi sendiri biasanya dari baru lahir hingga usia 30 hari. Bayi yang dirawat dalam ruang NICU memerlukan perawatan khusus di bawah pemantauan tim medis. Dokter dan perawat yang bertugas juga telah terlatih dalam mengurus bayi lahir prematur atau dengan kebutuhan khusus. Tujuannya adalah agar bayi bisa tetap sehat dan dapat pulang kembali ke rumah mereka. Banyak hal yang dapat menentukan berapa lama bayi akan dirawat di ruang NICU. Beberapa pertimbangan ketika bayi sudah diperbolehkan untuk pulang ke rumah, yaitu: Mampu makan tanpa bantuan selang, Bisa bernapas dengan baik tanpa adanya perubahan di organ dalamnya, Mampu mengatur suhu tubuhnya di luar inkubator NICU. Bayi yang harus dirawat ke dalam ruang NICU, tentu membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Bahkan ada biaya yang mencapai Rp10-15 juta/hari karena kebutuhan dan kondisi khusus bayi itu sendiri. Biaya rata-rata perawatan NICU di Indonesia sekitar Rp 500 ribu hingga 2 juta per hari, tergantung jenis kamar, kelengkapan alat-alat, dan jenis perawatan yang dibutuhkan. Dengan jumlah tersebut, masyarakat ekonomi lemah tentu tidak mampu menjangkaunya. Apabila bayi Anda harus mendapatkan perawatan di ruang NICU, pastikan Anda telah mendapatkan informasi yang lengkap mengenai fasilitas, biaya, serta aturan yang diterapkan rumah sakit. Berbagai informasi tersebut dapat Anda dapatkan dari dokter maupun dari petugas di rumah sakit.Sumber :1. Cheah I G S. Economic assessment of neonatal intensive care. Transl Pediatr. 2019. Volume 8(3); page 246-256.2. Narang A, Kiran P S S, Kumar P. Cost of neonatal intensive care in a tertiary care center. Indian Pediatr. 2005. Vol 42(10); 989-997.3. Shanmugasundaram R, Pdamapriya E, Shyamala J. Cost of neonatal intensive care. Indian J Peditr. 1998. Issue 65; 249-255.
dr. Buahati Sehat, Sp.A
06 September 2021
Konsultasi Bersama Buahati