Dibaca 242 Pengguna

Pulang dengan Oksigen

Di tulis oleh
dr. Buahati Sehat, Sp.A
|
05 September 2021
pulang-dengan-oksigen

Bayi prematur, khususnya yang lahir kurang dari 34 minggu, mayoritas lahir dengan keadaan paru-paru yang belum matang. Walaupun dengan kemajuan teknologi dan penelitian di bidang kebidanan untuk membantu pematangan paru, adanya penyulit lain baik dari masalah ibu maupun bayi, membuat bayi prematur berisiko jatuh pada keadaan kerusakan paru kronis yang disebut displasia bronkopulmonal. Keadaan paru kronis tersebut dapat menyebabkan suplai kadar oksigen dalam darah menurun drastis. Hal ini disebut dengan hipoksemia. Bayi prematur dengan hipoksemia tersebut kadang membutuhkan terapi oksigen di rumah setelah pulang dari rumah sakit walaupun sudah mendapatkan terapi yang tepat. Dengan adanya terapi oksigen ini diharapkan dapat menjaga kadar oksigen normal dalam darah sehingga bayi tidak sesak dan pertumbuhan dan perkembangannya terjadi dengan baik.

Bayi yang sudah stabil secara medis serta orang tua yang sudah terlatih merawat bayinya, bisa dipulangkan ke rumah dengan oksigen untuk mencegah terjadinya hipoksemia. Berada di rumah memang lebih nyaman dan menenangkan baik bagi orang tua maupun bagi bayi sendiri. Selain itu, merawat bayi di rumah juga dapat mengurangi biaya perawatan di rumah sakit.

Untuk penggunaan di rumah, mayoritas bayi mendapatkan oksigen melalui nasal canule, sebuah tabung kecil yang memiliki ukuran sesuai dengan ukuran lubang hidung bayi dan disematkan di belakang kepala bayi. Namun ada beberapa bayi yang mendapatkan oksigen melalui mesin CPAP (continuous positive airway pressure) ataupun home ventilator.

Konsultasikan dengan dokter yang merawat bayi tentang beberapa hal, seperti seberapa banyak oksigen yang dibutuhkan oleh bayi per hari, pengaturan kebutuhan oksigen tersebut, mengenali tanda meningkatnya kebutuhan oksigen, serta alat apa yang akan digunakan. Tentu banyak ketentuan yang harus diperhatikan ketika bayi prematur harus pulang dengan oksigen, diantaranya:

1. Pastikan saat di rumah, bayi berada di ruangan dengan ventilasi yang baik. Biarkan pintu tetap terbuka untuk memastikan aliran udara dalam ruangan tetap baik. Jika menggunakan pendingin ruangan ataupun kipas, pastikan rutin dibersihkan atau diservis.

2. Pastikan rumah bebas asap rokok. Pasang tanda dilarang merokok di depan pintu agar para tamu yang datang tahu bahwa tidak diperbolehkan merokok di dalam rumah.

3. Oksigen merupakan gas yang mudah terbakar, sehingga ketika bayi menggunakan oksigen, jaga jarak bayi jauh dari sumber api minimal 2 meter. Pastikan juga tempat penyimpanan tabung cadangan oksigen jauh dari sumber api (seperti kompor, pemanas makanan, radiator, korek api, tabung aerosol).

Bagi para orangtua pastikan sudah benar-benar memahami alat-alat yang akan digunakan di rumah, sebelum bayi pulang meninggalkan rumah sakit. Cara terbaik untuk mempelajarinya adalah dengan meluangkan banyak waktu untuk ikut merawat bayi di neonatal intensive care unit (NICU). Hal ini akan memudahkan orangtua untuk belajar dari perawat dan tim yang merawat bayinya, tanyakan sebanyak-banyaknya apa yang ingin diketahui atau masih belum jelas terkait perawatan bayi kepada mereka. Belajarlah cara untuk melakukan isap lendir, terapi inhalasi dengan nebulizer, dan fisioterapi dada untuk bayi selama proses transisi sebelum pulang. Jadwalkan kontrol rutin untuk memastikan penggunaan oksigen pada bayi anda sudah benar sekaligus mengevaluasi fungsi paru-parunya. Mungkin beberapa hal ini cukup baru, sulit, dan terasa melelahkan bagi para orangtua dan pengasuh. Oleh karena itu, gunakanlah kesempatan sebanyak mungkin untuk bertanya saat berkonsultasi dengan dokter dan perawat yang merawat bayi.

Referensi:

1. Balfour-Lynn IM, Primhak RA, Shaw BNJ. Home oxygen for children: who, how and when? Thorax.. 2005;60:76-81.


2. Dewi R. Terapi oksigen pada anak. Best Practices in Pediatrics. 2013;94-101.

Bagikan Artikel

Artikel Lainnya


bebas-asap-rokok-di-rumah
Dibaca 411 Pengguna
Bebas Asap Rokok di Rumah
Sering terpapar asap rokok dan menjadi perokok pasif lebih berbahaya daripada menjadi perokok aktif. Anak-anak dan bayi masih sangat rentan jika terpapar asap rokok. Jutaan anak hidup di lingkungan perokok aktif, bahkan di lingkungan rumah mereka. Di Amerika, sebanyak 4 dari 10 bayi dan anak (40,6%) merupakan perokok pasif yang sering terpapar asap rokok langsung. Kita juga sering mendengar mengenai Third-hand smoke? Apa itu third-hand smoke? Third-hand smoke merupakan residu dari asap rokok lingkungan yang menempel di setiap permukaan yang terpapar asap rokok dari lingkungan sekitarnya. Third-hand smoke biasanya terkena permukaan baju, lantai, perabot rumah tangga, mainan, kendaraan, dan dinding. Kontak dengan permukaan yang terpapar asap rokok, juga berbahaya bagi tubuh terutama anak-anak. Anak-anak yang sering terpapar rokok baik secara langsung setelah lahir atau lahir dari ibu yang merupakan perokok aktif berisiko tinggi untuk meninggal akibat terkena Sudden Infant Death Syndrome (SIDS) atau sindrom kematian mendadak pada bayi. Selain SIDS, bayi yang sering terpapar asap rokok sejak usia dini akan tumbuh menjadi anak yang sering sakit, dan sering mengalami gangguan sistem pernapasannya. Asma, radang paru-paru, bronkitis, pneumonia, dan penurunan fungsi paru adalah beberapa gangguan yang bisa dialami anak jika terpapar asap rokok dalam jangka Panjang. Pada ibu hamil yang merupakan perokok pasif akan berisiko tinggi untuk melahirkan bayi dengan berat lahir rendah (BBLR), dimana hal ini membuat bayi menjadi lebih lemah dan mudah terserang penyakit. Tentu anda tidak ingin hal ini terjadi pada bayi anda bukan? Oleh karena itu, penting bagi anda untuk menerapkan lingkungan rumah bebas asap rokok. Ciptakanlah lingkungan yang aman dan nyaman untuk bayi anda. Jika ada penghuni rumah yang merokok, segeralah berhenti. Namun, jika memang rumah terpapar dengan asap rokok, berikut beberapa cara yang dapat dilakukan untuk mencegah paparan melalui third-hand smoke, anda dapat mencuci dan membersihkan seluruh permukaan yang terpapar asap, membersihkan mainan dan benda-benda yang akan digunakan untuk bayi anda, cuci seluruh benda berbahan kain dirumah anda (termasuk karpet, sprei dan lain-lain), serta pastikan para perokok ataupun orang-orang yang baru terpapar asap rokok lingkungan untuk langsung mengganti baju dan mencuci tangan sesering mungkin terutama jika ingin menyentuh bayi anda serta barang-barang keperluan bayi anda.Referensi :1. Mayo Clinic. What is thirdhand smoke, why is it a concern? 2020. Diunduh dari: https://www.mayoclinic.org/healthy-lifestyle/adult-health/expert-answers/third-hand-smoke/faq-200577912. Healthychildren.org. Tips to keep a smoke-free home & car. 2017. Diunduh dari: https://www.healthychildren.org/English/health-issues/conditions/tobacco/Pages/Importance-of-Smoke-Free-Homes-and-Cars.aspx3. Pogodina C, Huber L R B, Racine E F, Platonova E. Smoke-free homes for smoke-free babies: the role of residential environmental tobacco smoke on low birth weight. J Community Health. 2009; Vol 34(5); 376-382.4. AAP. Smokefree homes and child health. 2020. Diunduh dari: https://downloads.aap.org/RCE/SmokefreeHomesFactsheet.pdf
dr. Buahati Sehat, Sp.A
06 September 2021
peran-saudara-kandung-di-rumah-dalam-perawatan-bayi-prematur
Dibaca 526 Pengguna
Peran Saudara Kandung di Rumah Dalam Perawatan Bayi Prematur
Pulang dengan adik baru tentunya akan terjadi banyak perubahan di rumah. Kakak juga pasti sudah menantikan lahirnya sang adik baru selama berbulan-bulan dan akan banyak macam reaksi dari mereka akan perubahan ini. Mereka mungkin akan menanyakan bagaimana kondisi adiknya, apa saja yang akan dibutuhkan adiknya, bahkan banyak perubahan dalam perilaku mereka, seperti bertingkah agak frustasi akan perubahan ini, beberapa akan menunjukkan rasa cemburu terhadap adiknya, dan mereka akan sedikit mencari perhatian anda dengan selalu meminta tolong akan hal-hal yang sebenarnya sudah mereka kuasai sebelumnya. Respon terhadap stres anak akan hal ini berbeda-beda pada tiap anak dan tergantung pada banyak hal. Hal-hal umum yang dapat menyebabkan stres bagi si kakak baru dan beberapa reaksi yang biasanya akan muncul: Stresor: Takut berpisah dari orang tua Perasaan tidak diinginkan di rumah Reaksi umum Menguji otoritas orang tua Mengalami beberapa kemunduran keterampilan Ada banyak faktor yang dapat memengaruhi bagaimana sang kakak akan berperilaku ketika berada disekitar adiknya yang baru lahir: Usia mereka saat adik baru lahir Jenis kelamin mereka dan adik bayi Seberapa lama sang adik tinggal di rumah sakit sebelumnya Respon mereka terhadap proses kelahiran Mengunjungi NICU Bagaimana proses mereka bertemu adik bayi untuk pertama kali Perubahan rutinitas rumah Sebagai orang tua tentu sudah tugas anda untuk mengatasi respon mereka, bagaimanapun itu. Berikut beberapa tips yang dapat anda lakukan agar si kakak merasa bahwa ia juga ‘spesial’ Libatkan mereka dalam proses persiapan untuk membawa adik bayi pulang, ke rumah pertama kali, jika memungkinkan. Miliki rutinitas harian setelah adik bayi pulang Tetapkan tugas khusus bagi mereka untuk ikut merawat adik bayi, jika memungkinkan. Biarkan mereka turut memilih mainan, buku dan pakaian untuk bayi. Anjurkan mereka untuk sering menghabiskan waktu bersama adik bayi Luangkan waktu untuk melakukan aktivitas hanya berdua dengan mereka Berhati-hatilah saat membuat janji kepada kakak, jangan membuat janji jika anda tidak yakin bisa menepatinya. Karena tidak dapat dipungkiri terkadang kebutuhan medis adik bayi merupakan prioritas saat ini. Referensi :1. Tommy’s. Managing relationships after premature birth. 2020. Diunduh dari: https://www.tommys.org/pregnancy-information/premature-birth/coping-with-premature-birth/managing-relationships-after-premature-birth2. Beavis A G. What about brothers and sisters? helping siblings cope with a new baby brother or sister in the NICU. Infant. 2007. Volume 3, Issue 6; page 239-242.3. Hand to Hold. Navigating the NICU as a family: connecting siblings with NICU babies. 2017. Diunduh dari: https://handtohold.org/nicu-sibling-support/
dr. Buahati Sehat, Sp.A
06 September 2021
biaya-yang-dibutuhkan-untuk-perawatan-intensif-di-nicu
Dibaca 1448 Pengguna
Biaya yang Dibutuhkan untuk Perawatan Intensif di NICU
NICU (Neonatal Intensive Care Unit) merupakan tempat pertama yang akan dituju untuk perawatan para bayi dengan kebutuhan khusus seperti bayi prematur sejak dilahirkan. Tujuan utama seorang bayi dirawat di NICU adalah untuk menjaga kelangsungan hidup bayi yang lahir dalam kondisi lemah sampai tubuhnya mampu beradaptasi sendiri biasanya dari baru lahir hingga usia 30 hari. Bayi yang dirawat dalam ruang NICU memerlukan perawatan khusus di bawah pemantauan tim medis. Dokter dan perawat yang bertugas juga telah terlatih dalam mengurus bayi lahir prematur atau dengan kebutuhan khusus. Tujuannya adalah agar bayi bisa tetap sehat dan dapat pulang kembali ke rumah mereka. Banyak hal yang dapat menentukan berapa lama bayi akan dirawat di ruang NICU. Beberapa pertimbangan ketika bayi sudah diperbolehkan untuk pulang ke rumah, yaitu: Mampu makan tanpa bantuan selang, Bisa bernapas dengan baik tanpa adanya perubahan di organ dalamnya, Mampu mengatur suhu tubuhnya di luar inkubator NICU. Bayi yang harus dirawat ke dalam ruang NICU, tentu membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Bahkan ada biaya yang mencapai Rp10-15 juta/hari karena kebutuhan dan kondisi khusus bayi itu sendiri. Biaya rata-rata perawatan NICU di Indonesia sekitar Rp 500 ribu hingga 2 juta per hari, tergantung jenis kamar, kelengkapan alat-alat, dan jenis perawatan yang dibutuhkan. Dengan jumlah tersebut, masyarakat ekonomi lemah tentu tidak mampu menjangkaunya. Apabila bayi Anda harus mendapatkan perawatan di ruang NICU, pastikan Anda telah mendapatkan informasi yang lengkap mengenai fasilitas, biaya, serta aturan yang diterapkan rumah sakit. Berbagai informasi tersebut dapat Anda dapatkan dari dokter maupun dari petugas di rumah sakit.Sumber :1. Cheah I G S. Economic assessment of neonatal intensive care. Transl Pediatr. 2019. Volume 8(3); page 246-256.2. Narang A, Kiran P S S, Kumar P. Cost of neonatal intensive care in a tertiary care center. Indian Pediatr. 2005. Vol 42(10); 989-997.3. Shanmugasundaram R, Pdamapriya E, Shyamala J. Cost of neonatal intensive care. Indian J Peditr. 1998. Issue 65; 249-255.
dr. Buahati Sehat, Sp.A
06 September 2021
Konsultasi Bersama Buahati